Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sok-iye Nay

Mengagungkan Rasa

 "Ahh puas deh gue..." What else? *ps: aku mau nulis ini tapi ragu karena belum saatnya diungkapkan.

Kerjaan

  Kerjaan kita emang cuma blajar blajar blajar Blajar buat pahami diri sendiri Blajar menjadi manusia tuk makhluk yg lain Blajar agar hidup lebih baik sampai mati. Setiap agama ngajarin tiga point tsb Semua tertata rapih dlm lembar sabda masing2 panutannya. Tp yg bikin complicated, kita punya sebuah karakter. Kaya gw, punya karakter sotoy, misalnya Ngerasa cara pikirnya paling bener sendiri diantara byk manusia lain lalu gw campur adukin masalah A dan B dgn modal sotoy yang akhirnya, "Iya gw islam tp pake cara gw" Sotoy. Lu baru hidup 5 menit, blajar gak menyeluruh tbtb "pake cara gw". Karakter bisa digerus gak? Gak bisa, tp dia bisa melemah dgn karakter pendukung lainnya. Misalnya dlm diri sendiri jg ada karakter skeptis Ngerasa ragu sama cara berpikir akhirnya perasaan sotoy itu lama-lama berkurang, tapi ini jarang ditemui Kecuali dia bisa memposisikan diri. Atau bisa juga karakter partner yg bikin kita ngerem ketika berpikir "Ohiya gw butuh validasi/dukungan...

Ini Bukan Tentang Norma dan Toleransi

Tau gak, apa pelanggaran yang biasanya sulit untuk diselesaikan? Pelanggaran yang terkait dengan norma. Siapa yang bilang manusia hidup harus diatur cara berpakaiannya, cara menikmati hidupnya, cara belajarnya? Sopan untukmu belum tentu sopan untukku, indah untukku belum tentu indah untukmu, sukses untukmu belum tentu sukses untukku. Itulah mengapa ada kaum yang mengagungkan kebebasan tiap pribadi manusia, ada juga yang meneriakan keterikatan pada aturan. Sama halnya dengan peristiwa Velvet Revolution, dimana kaum Ceko yang tipenya serius, dan tenang bertemu dengan kaum Slowakia yang sifatnya santai dan periang. Mereka gak akan ketemu, yang ada malah perpisahan dan bentuk negaranya masing-masing. Ini soal tenggang rasa, menghargai. Mimpi aja Utopia jika gak ada toleransi. Wong orang keluar telanjang aja masih disoraki.

Beda Cara Aja

Pagi-pagi dipantik sama judul berita yang membuat diriku tertawa…dan selanjutnya berpikir. Presiden memberikan kesempatan para aktivis 98 untuk merasakan posisi sebagai menteri, duta besar atau posisi di BUMN. Awalnya aku senyum terus tertawa karena salah satu tokoh yang digaung-gaungkan namanya berkomentar, “Saya gak kuat jadi menteri kalau presidennya Jokowi, capeknya ampun”   (TEMPO, 16/06/19)*. Tertawa karena beberapa hal sih, tapi kali ini aku gak mau bahas itu. Setelah baca berita itu, aku menjelajahi dunia google dengan keyword “aktivis mahasiswa sekarang”. Banyak artikel yang isinya perbandingan mahasiswa jaman sekarang dan jaman dulu. Manusia suka sekali membanding-bandingkan ya.. Hahahahahha. Aku baca baca tiap artikel dalam dua halaman di mesin pencarian, ternyata pertanyaan “Kemana mahasiswa jaman sekarang? Mana nih aktivis mahasiswa?” sering banget muncul. Momen para aktivis mahasiswa jaman dulu yang pernah menggulingkan kepala pemerintahan jadi cont...

Yakin Penting?

Sering banget berada dikondisi sedang terburu-buru? Atau merasa jadi orang penting dalam keramaian dunia?                     Cie... Bersyukurlah kamu!

Publik yang Memiliki Ruang

!!! Sensitive Content !!!

Skip Aja

Mau ngelanjutin thread ditwitter beberapa hari yang lalu.. Gue sempet ngebahas soal “Kenapa yaa.. akhir-akhir ini gak ada semangat juang buat dapetin cinta?” Dan menimbulkan sebuah pilihan (dari gue) antara Mantan Terindah dan Gebetan Baru. Ada 10 akun twitter yang nge vote, dan cuma satu yang memilih Mantan Terindah. So impressed! Setelah liat hasilnya, gue bersotoy ria, menganalisis bahwa orang yang memilih Mantan Terindah adalah individu yang mencoba menghargai “kekuatan” ( read : kebanyakan orang menganggapnya perasaan), dan ini menjadikannya dewasa. Sedangkan orang yang memilih Gebetan Baru adalah individu yang hidup di luar zona nyaman dan suka dengan tantangan. Kebaruan tersebutlah yang membuatnya hidup. Mungkin gampangnya gini, yang satu dibilang sulit buat move on, yang satunya lagi dibilang cari perhatian. Apa yaa.. Mantan terindah tuh.. Pernah menjadi. Pernah sama-sama membangun dan mengambrukkan kekuatan. Apalagi ada kata “terindah” disan...

Kena Deeh!

Hidup ini penuh persuasif.. Lo bangun tidur karena dipersuasi jam weker ataupun kewajiban lo menjadi manusia Lo berangkat kerja atau ngampus karena dipersuasi orang tua atau lingkungan  lo yang bilang kalo hidup tuh harus kaya gini, -----sekolah-nikah-kerja Lo dateng buat kerja, dipersuasi sama bos lo Lo belajar teori dan perlengkapannya, dipersuasi sama dosen lo, dan dosen lo dipengaruhi para pendahulunya untuk menganut teori itu Lo makan ajaa juga dipersuasi sama berita/pengetahuan yang bilang “ aktivitas membutuhkan energi. Energi berasal dari kalori yang kita makan ” Lo buang air, dipersuasi poster yang bertuliskan “ siramlah, setelah mengeluarkan ” Lo baca buku, dipersuasi sama brand atau review atau covernya Lo memilih untuk pulang naik apa, itu juga dipersuasi sama kondisi Lo pulang ke rumah. Mencium tangan orang rumah pun dipersuasi sama konstruksi sosial yang udah ada dari dulu Lo pacaran juga karena dipersuasi sama pacar lo, gitu gak?

Belum Paham

Kamis pukul 00.04 Teringat akan tweet kemarin, yang membahas mengenai adaptif Apa sih sebenarnya adaptif? Menurut KBBI, Adaptif : /adap-tif/a mudah menyesuaikan (diri) dengan keadaan . Kalimatnya simpel, tapi rumit buat dijelasin Jadi gimana ya... Seperti bunglon dengan mimikrinya? Untuk mengubah warna, menyesuaikan dengan lingkungan? Agar dapat menangkap mangsanya dan mengelabuhi pemangsanya? Mirip meniru?

Kutukan Zaman?

Bukan bermaksut gak bisa moveon dari masa lalu ya, cuma yaaa kangen aja Man. *** "Mah, itu si dede minta disuapin" "Aduh iya bentar. Mamah lagi sibuk belanja (online shop)" *mainhp* "....." *** "Pah, kapan jalan? Kakak udah telat sekolahhh" "Lima menit lagi" *mainhp* "...." ***

Sebuah Komitmen

Terlalu muda untuk membahas ini. Cuma udah gak tahan aja buat mengeluarkan pendapat. Ini tentang hubungan antara dua orang yang sering disebut “pacaran” Harus mulai darimana ya.. Gini deh, kenapa lo berfikir untuk memilih berpacaran? Karena sayang? Cinta? Pengen deket terus? Atau iseng-iseng doang? Kebanyakan orang memilih berpacaran itu untuk “Yaa biar dia jadi milik gue” wkwkwk. Fine fine. Atau gini “Kalo pacaran kan kaya ada ikatan gitu. Jadi lucu aja” wkwkwk. Mainstream Man.

Gabut

            Gunakan waktumu sebaik mungkin. Dimana saja. Kapan saja.             Yup. Gue punya cerita nih, jadi semua berawal dari gabutnya gue dalam perjalanan pulang sekolah. Waktu itu gue pulang bareng bokap naik motor. Dalam perjalanan kali ini gak ada topik yang mesti diobrolin antara gue dan bokap.             Apa yang lo lakuin saat diboncengin, tapi gak ada topik pembicaraan sama bokap lo/temen lo/tukang ojek lo/siapapun itu?             Diem. Bengong. Mikirin pacar lo. Atau gak mikirin nyokap lo di rumah masak apaan, kebetulan lo lagi laper. Ya berbagai macam yang kita pikirkan.             Kalo gue? Tebak ngapain....             Gue merhatiin orang-orang. Wakakakak emang kurang kerjaan, tapi menurut gue nih ini tuh bermanfaat. Daripada bengong, nanti kesurupan.     ...