Postingan

Menampilkan postingan dengan label Nasinaya

Akhir Drama

gak akan disangka drama seorang manusia apapun perasaan yang dibawanya; amarah, kecewa, duka, nestapa gairah, lega, suka, sentosa dan sebagainya berujung pada "maaf dan kamsia" terucap langsung pada Sesamanya maupun selintas hati bicara kepada Penciptanya.  lekas siapkan surat perjanjian antara Tuan/Puan dengan Sang Kala pilihannya dua; sepakat cepat atau segera yang samar-samar. 

Kita Adalah Manusia Yang Hidup di Muka Bumi Untuk Menjalankan Tugas

"tugas kita cuma sampai ajal kok.. sabar sedikit" ups. 

Berpikir Keras

Kemarin sempet berpikir keras pas lagi nyetrika setumpuk baju. Mata gue menjelajah ke sela-sela lipatan baju tapi pikiran gue enggak. Merasa udah khatam dunia penyetrikaan jadi yaudah sotoy aja deh, gue gak mikirin lagi apa yang harus dilakuin supaya cepet kelar ni urusan.  Lalu nyetrika lah gue dengan pikiran yang lagi menimang-nimang "hmm enaknya mikirin apa yaa kali ini.." kebetulan kalo nyetrika, gue suka dengerin podcast atau playlist. Di saat itu, keputerlah lagu yang nyentil gue ke memori lama. "Lah iya, apa kabar ya dia?" gue bertanya dalam hati sambil tersenyum tipis di bibir, dengan tangan yang masih sibuk nyemprotin pelicin baju. "Sial sial. Apa gue tanya aja ya.. Ah enggak lah.. Mau di taro mana muka gueee.." kali ini mata gue teralihkan, memincing ke kiri ke kanan sambil gelengin kepala. "Kalo gue tanya sekarang, pasti ngeganggu dia nih.. Gue gak mau bikin dia kepikiran.. Lain kali aja deh.." kesotoyan pertama.  "Aduuh iya juga ...

Tak Indah, Tak Dijaga

Jika kata-kata indahmu kau lantunkan dengan hati-hati saat menadah, menggengam, mengepal, melipat, mendekap tangan, Mengapa kata-kata disetiap kegiatan harianmu tak kau buat indah juga, tak kau jaga? Apa yang membedakan kata-kata pertama dan kata-kata kedua? Sehingga kata-kata kedua tak kau jaga sedang merangkai indah pada kata-kata pertama? Bukannya setiap kata-kata yang diucapkan secara lisan maupun tidak,  akan dikabulkan? #nasinaya Nasinaya  adalah tulisan yang isinya nasihat sotoy tak abadi. Bisa ngenyangin otak buat sementara waktu, sambil nunggu lauk pauk yang masih dimasak.

Memori

Buat gue,  Memori itu sebuah pemantik buat berpikir. Satu detik waktu yang kita lewatin tadi udah jadi bagian dari memori. Gak heran kan kita berpikir dari apa yang udah direkam sama otak, termasuk pengetahuan, kejadian, perasaan dll. Memori juga pemantik buat ngerasain beragam rasa.  Banyak rasa. Rasa itu yang bikin kita sebagai manusia tetap "hidup". Memori adalah perjalanan. Ketika kita lagi asik jalan dan gak sadar ada lubang di depan, spontan kita jatuh/oleng. Terus shock dikit, minggir bentar buat ngomel, kesel, nangis dll. Tapi abis itu kita tetep lanjutin perjalanan. Di detik ini, masa kini banget nih, gw kepikiran soal lubang tadi. Dengan rasa dan suasana yang lain, gw bisa ngetawain betapa begonya gw tadi gak liat lubang, betapa kocagnya gw karena ngomel dll. Setelah itu gw berpikir "berarti NANTI kalo ada lubang lagi gw harus blabla". Perjalanan makin panjang, memori pun makin banyak dan beragam. Yang mencambuk lalu memeluk. Yang menampar lalu mengajar. A...

Action!

Kita hidup untuk bermain peran . Dikelompok ini kamu menjadi antagonis. D ikelompok sana kamu menjadi protagonis. Sisi ini pemeran pendukung. Sebelah sana pemeran pengganti. Dan banyak juga yang cuma sekedar lewat. Makanya gak heran kalo kamu merasa pribadimu berubah-ubah. Salah satunya ya karena peran yang berbeda-beda itu. Kadang, kita emang gak bisa milih mau berperan menjadi apa. Makanya sekali tempo kamu merasakan "ini bukan aku bangeeet" tapi disisi lain kamu bilang "aku nyaman menjadi mawar". It's all about playing the role. Gak salah tuh kalo ada yang bilang, "Tuhan adalah sutradara terbaik". Karena kerap kali kita berada dikondisi baru, yang gak pernah terpikirkan sebelumnya. Itu berarti Tuhan memberimu peran yang baru. Dan bisa jadi fit sama kamu. "terus kalo aku salah adegan gimana?" Ya perbaiki.  Coba aja kamu ikut shooting film. Satu scene bisa berapa kali diulang? Beragam banget jumlahnya kan.. Tapi ada juga yang bisa one take t...

Angka

K atanya anggota dewan ngeliat kita, rakyat Indonesia, hanya sebatas deretan angka yaa? Tanpa jiwa tanpa suara dll. Hm menarik.. Gak heran, wong kita juga ngeliat kualitas sesuatu dari angka kok. Harga sayur, harga buku, jumlah gaji, jumlah bisnis, banyaknya uang di kantong, banyaknya pengalaman, sampai deretan angka retweet, like, view, subscribes, followers di media sosial kita. Semakin tinggi atau banyaknya angka, semakin berkualitas barang/produk/informasinya. Tanpa ngeliat proses dan gejolak yang terjadi. Gitu kan? Namanya juga dewan perWAKILan rakyat, cerminan rakyat. Pun sesama rakyat menilai masing-masing dengan angka kok. "dia punya rumah segini.. dia punya iq segitu.. dia berumur sekian..". Lalu dikalkulasikan menjadi "ooh dia kelas a..". Simple banget! "kalkulasi gue hasilnya kaya gini, kok lo pada marah sih, di mana salahnya?" Menentukan kualitas barang/produk/informasi enggak sebatas dari angka-nya ajaa, justru hal menarik tertinggal di luar d...

Lelah Ketemu Banyak Orang

Sering gak kalian lelah kalo abis ketemu orang? L elahnya lelah yang kaya "yaah abis deh energi gw..".  Salah satu faktornya tuu karena banyaknya respon tubuh yang kita berikan kepada orang tersebut. Kaya kerja otot supaya bergerak sekedar untuk tertawa, kerja otak untuk mencerna pesan, memberikan empati, dan banyak lainnya. Buat satu orang aja, dengan segala cerita mereka, kadang bisa bikin energi kita abis. Gimana kalo sekumpulan orang? Sejumlah orang? Gak ketinggalan, masing-masing punya cerita sendiri dan kita menerima cerita mereka. Paragraf pembuka di atas yang bikin tulisan ini bisa kalian baca sekarang. Namun sekarang, kata 'bertemu' bisa bergeser pengertiannya menjadi lebih luas. Kaya sebatas melihat ajaa tanpa interaksi dua arah, itu udah masuk ranah bertemu. Misal, kalian main twitter, lalu kalian bertemu banyaaaak sekali informasi dari tweet siapapun, orang yang kalian ikuti bahkan yang enggak diikuti. Informasi yang isinya beragam macam topik, yang berasa...

Kejadian Berulang (Eternal Sunshine of The Spotless Mind)

Gambar
(imdb.com) Pertama kali nonton Eternal Sunshine of The Spotless Mind (esotsm) sekitar tahun 2016 . Saat itu yang menarik perhatianku hanya tokoh Clementine. Betapa kerennya dia ganti-ganti cat rambut dan pembawaanya yang unik sebagai tokoh perempuan. Entah kapan, aku sempat nonton kembali film ini. Tapi yang aku ingat, setelah nonton yang kedua kali, aku jadi berpikir tentang

Ini Bukan Tentang Norma dan Toleransi

Tau gak, apa pelanggaran yang biasanya sulit untuk diselesaikan? Pelanggaran yang terkait dengan norma. Siapa yang bilang manusia hidup harus diatur cara berpakaiannya, cara menikmati hidupnya, cara belajarnya? Sopan untukmu belum tentu sopan untukku, indah untukku belum tentu indah untukmu, sukses untukmu belum tentu sukses untukku. Itulah mengapa ada kaum yang mengagungkan kebebasan tiap pribadi manusia, ada juga yang meneriakan keterikatan pada aturan. Sama halnya dengan peristiwa Velvet Revolution, dimana kaum Ceko yang tipenya serius, dan tenang bertemu dengan kaum Slowakia yang sifatnya santai dan periang. Mereka gak akan ketemu, yang ada malah perpisahan dan bentuk negaranya masing-masing. Ini soal tenggang rasa, menghargai. Mimpi aja Utopia jika gak ada toleransi. Wong orang keluar telanjang aja masih disoraki.

Beda Cara Aja

Pagi-pagi dipantik sama judul berita yang membuat diriku tertawa…dan selanjutnya berpikir. Presiden memberikan kesempatan para aktivis 98 untuk merasakan posisi sebagai menteri, duta besar atau posisi di BUMN. Awalnya aku senyum terus tertawa karena salah satu tokoh yang digaung-gaungkan namanya berkomentar, “Saya gak kuat jadi menteri kalau presidennya Jokowi, capeknya ampun”   (TEMPO, 16/06/19)*. Tertawa karena beberapa hal sih, tapi kali ini aku gak mau bahas itu. Setelah baca berita itu, aku menjelajahi dunia google dengan keyword “aktivis mahasiswa sekarang”. Banyak artikel yang isinya perbandingan mahasiswa jaman sekarang dan jaman dulu. Manusia suka sekali membanding-bandingkan ya.. Hahahahahha. Aku baca baca tiap artikel dalam dua halaman di mesin pencarian, ternyata pertanyaan “Kemana mahasiswa jaman sekarang? Mana nih aktivis mahasiswa?” sering banget muncul. Momen para aktivis mahasiswa jaman dulu yang pernah menggulingkan kepala pemerintahan jadi cont...

Yakin Penting?

Sering banget berada dikondisi sedang terburu-buru? Atau merasa jadi orang penting dalam keramaian dunia?                     Cie... Bersyukurlah kamu!

Diaval (Diari Oval) 1

Namaku Oval.  Sebenarnya Naufal, hanya saja biar lebih mudah diingat, cakap saja Oval. Lagipula banyak orang yang bilang wajahku berbentuk Oval. Yaudah kita lewati saja pembahasan soal nama ini ya.. Aku kuliah jurusan Komunikasi di daerah Nusantara dengan lingkungan yang penuh pertanyaan. Baru sampai semester dua, tapi dipikiranku sudah banyak hal-hal yang  membingungkan. Jadi mari kita tuliskan disini, supaya aku ingat bahwa pikiranku masih hidup. Selamat membaca! 1. Konstruksi.  Dia bilang, budaya kita dikonstruk. Apa-apa yang terjadi adalah hasil dari pembentukkan sebuah kelompok atau manusia. Hasilnya adalah sebuah realitas sosial yang diterima oleh manusia itu sendiri. Subjektif dong? Tergantung sumbernya gimana Siapa yang mengonstruk? Orang-orang yang punya kekuatan. Kekuatan bicara, materi, kekuasaan dan sebagainya. Opinion leader. Kebiasaan manusia yang sering aku lihat di lingkunganku adalah mereka dituntut untuk melakukan kegiatan yang sama ...

Publik yang Memiliki Ruang

!!! Sensitive Content !!!

Skip Aja

Mau ngelanjutin thread ditwitter beberapa hari yang lalu.. Gue sempet ngebahas soal “Kenapa yaa.. akhir-akhir ini gak ada semangat juang buat dapetin cinta?” Dan menimbulkan sebuah pilihan (dari gue) antara Mantan Terindah dan Gebetan Baru. Ada 10 akun twitter yang nge vote, dan cuma satu yang memilih Mantan Terindah. So impressed! Setelah liat hasilnya, gue bersotoy ria, menganalisis bahwa orang yang memilih Mantan Terindah adalah individu yang mencoba menghargai “kekuatan” ( read : kebanyakan orang menganggapnya perasaan), dan ini menjadikannya dewasa. Sedangkan orang yang memilih Gebetan Baru adalah individu yang hidup di luar zona nyaman dan suka dengan tantangan. Kebaruan tersebutlah yang membuatnya hidup. Mungkin gampangnya gini, yang satu dibilang sulit buat move on, yang satunya lagi dibilang cari perhatian. Apa yaa.. Mantan terindah tuh.. Pernah menjadi. Pernah sama-sama membangun dan mengambrukkan kekuatan. Apalagi ada kata “terindah” disan...

Kena Deeh!

Hidup ini penuh persuasif.. Lo bangun tidur karena dipersuasi jam weker ataupun kewajiban lo menjadi manusia Lo berangkat kerja atau ngampus karena dipersuasi orang tua atau lingkungan  lo yang bilang kalo hidup tuh harus kaya gini, -----sekolah-nikah-kerja Lo dateng buat kerja, dipersuasi sama bos lo Lo belajar teori dan perlengkapannya, dipersuasi sama dosen lo, dan dosen lo dipengaruhi para pendahulunya untuk menganut teori itu Lo makan ajaa juga dipersuasi sama berita/pengetahuan yang bilang “ aktivitas membutuhkan energi. Energi berasal dari kalori yang kita makan ” Lo buang air, dipersuasi poster yang bertuliskan “ siramlah, setelah mengeluarkan ” Lo baca buku, dipersuasi sama brand atau review atau covernya Lo memilih untuk pulang naik apa, itu juga dipersuasi sama kondisi Lo pulang ke rumah. Mencium tangan orang rumah pun dipersuasi sama konstruksi sosial yang udah ada dari dulu Lo pacaran juga karena dipersuasi sama pacar lo, gitu gak?

Belum Paham

Kamis pukul 00.04 Teringat akan tweet kemarin, yang membahas mengenai adaptif Apa sih sebenarnya adaptif? Menurut KBBI, Adaptif : /adap-tif/a mudah menyesuaikan (diri) dengan keadaan . Kalimatnya simpel, tapi rumit buat dijelasin Jadi gimana ya... Seperti bunglon dengan mimikrinya? Untuk mengubah warna, menyesuaikan dengan lingkungan? Agar dapat menangkap mangsanya dan mengelabuhi pemangsanya? Mirip meniru?

Kutukan Zaman?

Bukan bermaksut gak bisa moveon dari masa lalu ya, cuma yaaa kangen aja Man. *** "Mah, itu si dede minta disuapin" "Aduh iya bentar. Mamah lagi sibuk belanja (online shop)" *mainhp* "....." *** "Pah, kapan jalan? Kakak udah telat sekolahhh" "Lima menit lagi" *mainhp* "...." ***

Sebuah Komitmen

Terlalu muda untuk membahas ini. Cuma udah gak tahan aja buat mengeluarkan pendapat. Ini tentang hubungan antara dua orang yang sering disebut “pacaran” Harus mulai darimana ya.. Gini deh, kenapa lo berfikir untuk memilih berpacaran? Karena sayang? Cinta? Pengen deket terus? Atau iseng-iseng doang? Kebanyakan orang memilih berpacaran itu untuk “Yaa biar dia jadi milik gue” wkwkwk. Fine fine. Atau gini “Kalo pacaran kan kaya ada ikatan gitu. Jadi lucu aja” wkwkwk. Mainstream Man.

Gabut

            Gunakan waktumu sebaik mungkin. Dimana saja. Kapan saja.             Yup. Gue punya cerita nih, jadi semua berawal dari gabutnya gue dalam perjalanan pulang sekolah. Waktu itu gue pulang bareng bokap naik motor. Dalam perjalanan kali ini gak ada topik yang mesti diobrolin antara gue dan bokap.             Apa yang lo lakuin saat diboncengin, tapi gak ada topik pembicaraan sama bokap lo/temen lo/tukang ojek lo/siapapun itu?             Diem. Bengong. Mikirin pacar lo. Atau gak mikirin nyokap lo di rumah masak apaan, kebetulan lo lagi laper. Ya berbagai macam yang kita pikirkan.             Kalo gue? Tebak ngapain....             Gue merhatiin orang-orang. Wakakakak emang kurang kerjaan, tapi menurut gue nih ini tuh bermanfaat. Daripada bengong, nanti kesurupan.     ...